Langsung ke konten utama

Gaung di Lorong Nurani


     Dunia seakan kehilangan nuraninya. Siang dan malam hanya diisi oleh raungan kepedihan, ratapan pilu bersahut dengan tangisan yang tak lagi sanggup membentuk kata. Konon katanya, dunia menjunjung keadilan—namun kenyataannya, keadilan hanya tinggal mitos yang memudar dalam debu kehancuran. Mata sengaja dibutakan, telinga dipilih untuk ditulikan. Nyawa manusia tak lebih berharga dari debu di jalanan, seolah tak ada arti selain angka di laporan. Mereka yang lantang berseru tentang hak asasi manusia—ke mana mereka pergi? Mereka yang negerinya kuat, mampu, dan dekat—mengapa tak tergerak? Mereka yang mengaku saudara, kini hanya diam membisu, menjadi penonton bisu dari panggung tragedi paling kejam.

        Dentuman bom menggantikan nyanyian malam, menggulung rumah, harapan, dan tubuh-tubuh kecil yang bahkan belum sempat mengenal dunia. Tak ada tempat aman, tak ada waktu untuk doa yang khusyuk—hanya serpihan tubuh dan jiwa yang berserak, menyatu dengan tanah yang bersaksi atas segalanya. Kini, harapan satu-satunya hanya tertuju pada langit. Kepada Dia yang Maha Kuasa, mereka menggantungkan sisa harapan yang belum hancur. Menanti, entah sampai kapan pertolongan itu akan tiba?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Aku dan Dia

       Mataku terbelalak kaget saat melihat siapa yang kini berdiri di hadapanku. Daksaku spontan melangkah mundur perlahan. Aku gugup. Pandanganku menyapu sekeliling, kedua tanganku saling bertaut, dan jantungku berdetak tak karuan. Dengan sekuat tenaga, aku mencoba menetralkan degup jantung yang kacau, berharap orang di hadapanku tak menyadari tingkah konyolku ini.    “Bisa geser sedikit?” Suaranya menggema di telingaku—suara yang selama ini selalu ingin kudengar. Di setiap menit, setiap detik, aku berharap bisa mendengarnya lagi dan lagi.    “Halo?” ucapnya sedikit lebih keras sambil melambai di depan wajahku. Aku tersentak dari lamunanku.     Sial! Betapa malunya aku bertingkah seperti orang bodoh di depannya.    “Ah, iya. Silakan,” kataku gugup. Aku segera menggeser tubuh, memberi jalan untuknya. Tanpa merespon dia langsung mengambil langkah dan saat ia melangkah melewatiku, tubuhnya berhenti tepat di sisiku. Lalu... ...

Ketika Penguasa Menjadi Sumber Bencana

   Entah bagaimana semuanya bisa berubah secepat ini. Kekacauan muncul di mana-mana, dan aku benar-benar bingung melihat keadaan yang semakin tak terkendali. Orang-orang kini sibuk menyelamatkan diri masing-masing, seolah kepentingan pribadi adalah hukum yang paling sah. Yang lebih membuat geram, mereka yang sekarang sibuk turun ke lapangan dengan gaya seolah paling pahlawan justru adalah orang-orang yang ikut menabur benih kekacauan ini sejak awal.    Muak rasanya mendengar omong kosong mereka setiap hari. Di sini, masyarakat hidup dalam ketakutan, kecemasan, dan kekhawatiran. Mereka bertanya-tanya bagaimana nasib hidup mereka setelah bencana ini berlalu. Apakah negara akan menjamin mereka hidup layak? Bagaimana mungkin, jika mereka yang diminta memberi kepastian malah sibuk mempertontonkan pencitraan di depan publik, berlomba-lomba menunjukkan seberapa besar “kontribusi” mereka?    Sungguh, kadang terasa ingin berteriak tepat di telinga para petinggi itu ...

Antara Kebijakan dan Kenyataan

 Masyarakat Indonesia punya kebiasaan unik ketika ada masalah, jarang sekali cermin yang dicari, yang lebih dulu ditunjuk adalah kambing hitam. Belakangan ini, sorotan publik tertuju pada pernyataan Menteri Pendidikan mengenai rendahnya nilai Tes Kemampuan Akademik siswa Indonesia. Menurut beliau, hasil yang rendah itu bukan kesalahan siswanya, melainkan kesalahan guru dan metode ajarnya. Ironis, ya? Seolah beliau melewatkan satu bab penting dalam hidup: pernah duduk di kelas dan merasakan sendiri realitas pendidikan di lapangan. Padahal, menyalahkan guru adalah jalan keluar paling instan, semanis mi instan. Mudah disajikan, cepat dicerna, tapi minim gizi solusi. Guru hari ini bukan hanya mengajar, mereka juga berjibaku dengan sistem yang menganggap administrasi lebih penting dari interaksi edukasi. Rencana pelaksanaan pembelajaran harus rapi, laporan harus lengkap, data harus detail, sementara waktu mengajar tersisa sisa-sisa yang hampir menangis minta diperhatikan. Dulu, profesi ...