Entah bagaimana semuanya bisa berubah secepat ini. Kekacauan muncul di mana-mana, dan aku benar-benar bingung melihat keadaan yang semakin tak terkendali. Orang-orang kini sibuk menyelamatkan diri masing-masing, seolah kepentingan pribadi adalah hukum yang paling sah. Yang lebih membuat geram, mereka yang sekarang sibuk turun ke lapangan dengan gaya seolah paling pahlawan justru adalah orang-orang yang ikut menabur benih kekacauan ini sejak awal.
Muak rasanya mendengar omong kosong mereka setiap hari. Di sini, masyarakat hidup dalam ketakutan, kecemasan, dan kekhawatiran. Mereka bertanya-tanya bagaimana nasib hidup mereka setelah bencana ini berlalu. Apakah negara akan menjamin mereka hidup layak? Bagaimana mungkin, jika mereka yang diminta memberi kepastian malah sibuk mempertontonkan pencitraan di depan publik, berlomba-lomba menunjukkan seberapa besar “kontribusi” mereka?
Sungguh, kadang terasa ingin berteriak tepat di telinga para petinggi itu agar mereka sadar bahwa semua ini terjadi karena campur tangan mereka sendiri. Ingin rasanya memaki habis-habisan, sekadar membuat mereka mengerti bahwa negara ini tidak hanya dihuni oleh mereka. Banyak orang menggantungkan harapan dan kehidupannya pada keputusan mereka. Tapi sayang, mereka jarang mau melihat ke bawah. Kepala selalu mendongak, seakan-akan merekalah pemilik dunia ini.
Setiap orang punya harapan. Namun harapan itu perlahan mereka bunuh pelan, tapi pasti.
Komentar
Posting Komentar