Langsung ke konten utama

Ketika Penguasa Menjadi Sumber Bencana

   Entah bagaimana semuanya bisa berubah secepat ini. Kekacauan muncul di mana-mana, dan aku benar-benar bingung melihat keadaan yang semakin tak terkendali. Orang-orang kini sibuk menyelamatkan diri masing-masing, seolah kepentingan pribadi adalah hukum yang paling sah. Yang lebih membuat geram, mereka yang sekarang sibuk turun ke lapangan dengan gaya seolah paling pahlawan justru adalah orang-orang yang ikut menabur benih kekacauan ini sejak awal.

   Muak rasanya mendengar omong kosong mereka setiap hari. Di sini, masyarakat hidup dalam ketakutan, kecemasan, dan kekhawatiran. Mereka bertanya-tanya bagaimana nasib hidup mereka setelah bencana ini berlalu. Apakah negara akan menjamin mereka hidup layak? Bagaimana mungkin, jika mereka yang diminta memberi kepastian malah sibuk mempertontonkan pencitraan di depan publik, berlomba-lomba menunjukkan seberapa besar “kontribusi” mereka?

   Sungguh, kadang terasa ingin berteriak tepat di telinga para petinggi itu agar mereka sadar bahwa semua ini terjadi karena campur tangan mereka sendiri. Ingin rasanya memaki habis-habisan, sekadar membuat mereka mengerti bahwa negara ini tidak hanya dihuni oleh mereka. Banyak orang menggantungkan harapan dan kehidupannya pada keputusan mereka. Tapi sayang, mereka jarang mau melihat ke bawah. Kepala selalu mendongak, seakan-akan merekalah pemilik dunia ini.

   Setiap orang punya harapan. Namun harapan itu perlahan mereka bunuh pelan, tapi pasti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Aku dan Dia

       Mataku terbelalak kaget saat melihat siapa yang kini berdiri di hadapanku. Daksaku spontan melangkah mundur perlahan. Aku gugup. Pandanganku menyapu sekeliling, kedua tanganku saling bertaut, dan jantungku berdetak tak karuan. Dengan sekuat tenaga, aku mencoba menetralkan degup jantung yang kacau, berharap orang di hadapanku tak menyadari tingkah konyolku ini.    “Bisa geser sedikit?” Suaranya menggema di telingaku—suara yang selama ini selalu ingin kudengar. Di setiap menit, setiap detik, aku berharap bisa mendengarnya lagi dan lagi.    “Halo?” ucapnya sedikit lebih keras sambil melambai di depan wajahku. Aku tersentak dari lamunanku.     Sial! Betapa malunya aku bertingkah seperti orang bodoh di depannya.    “Ah, iya. Silakan,” kataku gugup. Aku segera menggeser tubuh, memberi jalan untuknya. Tanpa merespon dia langsung mengambil langkah dan saat ia melangkah melewatiku, tubuhnya berhenti tepat di sisiku. Lalu... ...

Rasa Yang Abu Abu

     Ahhh... rasa itu lagi. Bayangan itu lagi," gumamku sendiri. ‎     Kuraih rambutku, mengacaknya frustasi. Entah kenapa bayangannya tak kunjung enyah dari kepalaku. Aku mulai merasa kehilangan kendali atas pikiranku sendiri. Gila, mungkin. Hal yang seharusnya sudah usang, justru kembali bergema begitu jelas dalam benakku. Apa maksudnya semua ini? ‎Jika ada yang bertanya, "Apa yang istimewa tentang dia?" ‎Aku terdiam. Tak ada jawaban pasti. Tapi satu hal yang kurasa benar: ‎"Tak ada yang istimewa... jika tanpa dia." ‎     Bukankah itu artinya segala sesuatu terasa lebih hidup saat bersamanya? Entahlah. Tapi memang begitu rasanya. Sebuah rasa yang tak bisa dijelaskan dengan kata. Aku tidak sedih. Tapi juga tidak bahagia. Semuanya terasa abu-abu, menggantung tanpa nama yang mampu mewakili. Namun yang pasti: aku tidak menyukai keadaan ini. Keadaan saat segalanya berubah—begitu pelan, begitu sunyi—hingga seolah tak pernah berubah sama sekali. T...

Gaung di Lorong Nurani

     Dunia seakan kehilangan nuraninya. Siang dan malam hanya diisi oleh raungan kepedihan, ratapan pilu bersahut dengan tangisan yang tak lagi sanggup membentuk kata. Konon katanya, dunia menjunjung keadilan—namun kenyataannya, keadilan hanya tinggal mitos yang memudar dalam debu kehancuran. Mata sengaja dibutakan, telinga dipilih untuk ditulikan. Nyawa manusia tak lebih berharga dari debu di jalanan, seolah tak ada arti selain angka di laporan. Mereka yang lantang berseru tentang hak asasi manusia—ke mana mereka pergi? Mereka yang negerinya kuat, mampu, dan dekat—mengapa tak tergerak? Mereka yang mengaku saudara, kini hanya diam membisu, menjadi penonton bisu dari panggung tragedi paling kejam.         Dentuman bom menggantikan nyanyian malam, menggulung rumah, harapan, dan tubuh-tubuh kecil yang bahkan belum sempat mengenal dunia. Tak ada tempat aman, tak ada waktu untuk doa yang khusyuk—hanya serpihan tubuh dan jiwa yang berserak, menyatu dengan ta...