Malam yang sunyi menyelimuti langit, hanya keheningan yang menemani saat aku duduk terpaku pada sebuah buku yang terbuka di pangkuan. Namun, tak sepatah kata pun benar-benar kuresapi. Pikiranku melayang jauh, menjelajah ke ruang-ruang kemungkinan yang rasanya mustahil terwujud. Aku bingung. “Ya Tuhan… mengapa bisa seperti ini?” gumamku lirih, kedua tanganku merengkuh rambut, mengacaknya pelan, seolah mencoba meredakan kegundahan yang melanda. Di tengah gelisah yang menghimpit dada, suara adzan menggema menembus keheningan. Merdu dan penuh seruan, seakan memanggil setiap jiwa untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, dan menghadap pada-Nya. Dari jendela kamarku, kulihat orang-orang mulai beranjak, melangkah menuju rumah ibadah. Tanpa sengaja, mataku menangkap sosok yang begitu kukenal—dia, lelaki yang nyaris kutabrak pagi tadi. Dia, yang entah bagaimana selalu berhasil membuat jantungku berdebar lebih cepat. Dia, yang kehadirannya saja mampu mengubah udara menjadi lebih...
Entah bagaimana semuanya bisa berubah secepat ini. Kekacauan muncul di mana-mana, dan aku benar-benar bingung melihat keadaan yang semakin tak terkendali. Orang-orang kini sibuk menyelamatkan diri masing-masing, seolah kepentingan pribadi adalah hukum yang paling sah. Yang lebih membuat geram, mereka yang sekarang sibuk turun ke lapangan dengan gaya seolah paling pahlawan justru adalah orang-orang yang ikut menabur benih kekacauan ini sejak awal. Muak rasanya mendengar omong kosong mereka setiap hari. Di sini, masyarakat hidup dalam ketakutan, kecemasan, dan kekhawatiran. Mereka bertanya-tanya bagaimana nasib hidup mereka setelah bencana ini berlalu. Apakah negara akan menjamin mereka hidup layak? Bagaimana mungkin, jika mereka yang diminta memberi kepastian malah sibuk mempertontonkan pencitraan di depan publik, berlomba-lomba menunjukkan seberapa besar “kontribusi” mereka? Sungguh, kadang terasa ingin berteriak tepat di telinga para petinggi itu ...