Langsung ke konten utama

Antara Kebijakan dan Kenyataan

 Masyarakat Indonesia punya kebiasaan unik ketika ada masalah, jarang sekali cermin yang dicari, yang lebih dulu ditunjuk adalah kambing hitam. Belakangan ini, sorotan publik tertuju pada pernyataan Menteri Pendidikan mengenai rendahnya nilai Tes Kemampuan Akademik siswa Indonesia. Menurut beliau, hasil yang rendah itu bukan kesalahan siswanya, melainkan kesalahan guru dan metode ajarnya. Ironis, ya? Seolah beliau melewatkan satu bab penting dalam hidup: pernah duduk di kelas dan merasakan sendiri realitas pendidikan di lapangan.

Padahal, menyalahkan guru adalah jalan keluar paling instan, semanis mi instan. Mudah disajikan, cepat dicerna, tapi minim gizi solusi. Guru hari ini bukan hanya mengajar, mereka juga berjibaku dengan sistem yang menganggap administrasi lebih penting dari interaksi edukasi. Rencana pelaksanaan pembelajaran harus rapi, laporan harus lengkap, data harus detail, sementara waktu mengajar tersisa sisa-sisa yang hampir menangis minta diperhatikan.

Dulu, profesi guru adalah cita-cita mulia. Banyak teman seangkatanku yang ingin menjadi pengajar, menyebarkan ilmu dengan bangga. Sekarang? Bahkan seperempat siswa di satu kelas pun enggan, karena menjadi guru hari ini bukan terlihat sebagai panggilan, melainkan tantangan adu kuat dengan sistem yang melelahkan. Alasannya sederhana tuntutan sistemnya yang luar biasa banyaknya, sampai rasanya mengajar jadi “bonus” dari pekerjaan utama, yaitu mengurus segala tetek bengek dokumen.

Orang-orang di pucuk kekuasaan sering lupa, bahwa teori dan realita itu seperti bayangan dan benda aslinya mirip, tapi tak pernah benar-benar sama. Di bangku perkuliahan, kami diajarkan tentang berbagai metode, strategi, teknik, dan pendekatan pembelajaran. Kami dilatih merancang kelas ideal, menerapkan model ini dan itu agar siswa paham. Tapi apakah semua itu semudah menu paket? Tidak. Bahkan hanya mengarang skenario pembelajaran saja rasanya kepalaku sudah protes duluan. Lalu bayangkan menerapkannya setiap hari di kelas berisi 40 siswa, dengan watak yang 40 pula ragamnya? Itu bukan sekadar mengajar, itu melukis di kanvas yang bergerak terus.

Guru berusaha mengganti model belajar, menyiapkan strategi baru, menciptakan ruang paham di tengah kelas yang padat, berharap ada apresiasi yang setara. Namun, jika penghargaan ibarat tepuk tangan, yang sebuah kelas layak dapat, seringnya yang terdengar hanya bisik kritik dari kejauhan. Lebih menyakitkan lagi, di saat kemampuan akademik menurun, komentar yang datang bukan introspeksi pada sistem, tetapi kembali lagi menyalahkan mereka yang justru menjadi penyangga terakhir di garis depan pendidikan.

Sementara itu, siswa generasi sekarang tumbuh di era yang perhatian publiknya lebih deras mengalir pada layar ponsel. Tidak semua, tentu, tetapi banyak yang lebih memilih merias diri dan bersenang-senang di media sosial, daripada adu wawasan di ruang belajar. Tantangan guru pun jadi berlipat: bukan hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga bersaing dengan notifikasi, tren, dan distraksi yang lebih keras memanggil dari buku pelajaran.

Lalu, apa yang sebenarnya salah? Sistem pendidikan Indonesia sendiri. Sistem yang dulu dikenal kuat dan berwibawa, pelan-pelan berubah menjadi labirin tuntutan tanpa ujung, menakutkan bagi siswa, dan menyesakkan bagi guru. Pendidikan yang semula adalah ruang bertumbuh dengan bangga, kini sering terasa seperti panggung besar untuk saling menyalahkan, sementara pelaku utamanya sudah kelelahan berdiri di tengah sorotan.

Jika ingin hasil pendidikan membaik, mungkin yang perlu diperbarui bukan hanya metode ajar di kelas, tetapi juga cara pandang pada mereka yang mengajar. Karena, mudah sekali bicara tentang rendahnya nilai dari kursi empuk kebijakan. Bagian sulitnya, justru ada pada mereka yang tetap mengajar meski suaranya jarang didengar, namun jasanya selalu diingat ketika dibutuhkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Aku dan Dia

       Mataku terbelalak kaget saat melihat siapa yang kini berdiri di hadapanku. Daksaku spontan melangkah mundur perlahan. Aku gugup. Pandanganku menyapu sekeliling, kedua tanganku saling bertaut, dan jantungku berdetak tak karuan. Dengan sekuat tenaga, aku mencoba menetralkan degup jantung yang kacau, berharap orang di hadapanku tak menyadari tingkah konyolku ini.    “Bisa geser sedikit?” Suaranya menggema di telingaku—suara yang selama ini selalu ingin kudengar. Di setiap menit, setiap detik, aku berharap bisa mendengarnya lagi dan lagi.    “Halo?” ucapnya sedikit lebih keras sambil melambai di depan wajahku. Aku tersentak dari lamunanku.     Sial! Betapa malunya aku bertingkah seperti orang bodoh di depannya.    “Ah, iya. Silakan,” kataku gugup. Aku segera menggeser tubuh, memberi jalan untuknya. Tanpa merespon dia langsung mengambil langkah dan saat ia melangkah melewatiku, tubuhnya berhenti tepat di sisiku. Lalu... ...

Rasa Yang Abu Abu

     Ahhh... rasa itu lagi. Bayangan itu lagi," gumamku sendiri. ‎     Kuraih rambutku, mengacaknya frustasi. Entah kenapa bayangannya tak kunjung enyah dari kepalaku. Aku mulai merasa kehilangan kendali atas pikiranku sendiri. Gila, mungkin. Hal yang seharusnya sudah usang, justru kembali bergema begitu jelas dalam benakku. Apa maksudnya semua ini? ‎Jika ada yang bertanya, "Apa yang istimewa tentang dia?" ‎Aku terdiam. Tak ada jawaban pasti. Tapi satu hal yang kurasa benar: ‎"Tak ada yang istimewa... jika tanpa dia." ‎     Bukankah itu artinya segala sesuatu terasa lebih hidup saat bersamanya? Entahlah. Tapi memang begitu rasanya. Sebuah rasa yang tak bisa dijelaskan dengan kata. Aku tidak sedih. Tapi juga tidak bahagia. Semuanya terasa abu-abu, menggantung tanpa nama yang mampu mewakili. Namun yang pasti: aku tidak menyukai keadaan ini. Keadaan saat segalanya berubah—begitu pelan, begitu sunyi—hingga seolah tak pernah berubah sama sekali. T...

Gaung di Lorong Nurani

     Dunia seakan kehilangan nuraninya. Siang dan malam hanya diisi oleh raungan kepedihan, ratapan pilu bersahut dengan tangisan yang tak lagi sanggup membentuk kata. Konon katanya, dunia menjunjung keadilan—namun kenyataannya, keadilan hanya tinggal mitos yang memudar dalam debu kehancuran. Mata sengaja dibutakan, telinga dipilih untuk ditulikan. Nyawa manusia tak lebih berharga dari debu di jalanan, seolah tak ada arti selain angka di laporan. Mereka yang lantang berseru tentang hak asasi manusia—ke mana mereka pergi? Mereka yang negerinya kuat, mampu, dan dekat—mengapa tak tergerak? Mereka yang mengaku saudara, kini hanya diam membisu, menjadi penonton bisu dari panggung tragedi paling kejam.         Dentuman bom menggantikan nyanyian malam, menggulung rumah, harapan, dan tubuh-tubuh kecil yang bahkan belum sempat mengenal dunia. Tak ada tempat aman, tak ada waktu untuk doa yang khusyuk—hanya serpihan tubuh dan jiwa yang berserak, menyatu dengan ta...