Malam yang sunyi menyelimuti langit, hanya keheningan yang menemani saat aku duduk terpaku pada sebuah buku yang terbuka di pangkuan. Namun, tak sepatah kata pun benar-benar kuresapi. Pikiranku melayang jauh, menjelajah ke ruang-ruang kemungkinan yang rasanya mustahil terwujud. Aku bingung.
“Ya Tuhan… mengapa bisa seperti ini?” gumamku lirih, kedua tanganku merengkuh rambut, mengacaknya pelan, seolah mencoba meredakan kegundahan yang melanda.
Di tengah gelisah yang menghimpit dada, suara adzan menggema menembus keheningan. Merdu dan penuh seruan, seakan memanggil setiap jiwa untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, dan menghadap pada-Nya. Dari jendela kamarku, kulihat orang-orang mulai beranjak, melangkah menuju rumah ibadah. Tanpa sengaja, mataku menangkap sosok yang begitu kukenal—dia, lelaki yang nyaris kutabrak pagi tadi. Dia, yang entah bagaimana selalu berhasil membuat jantungku berdebar lebih cepat. Dia, yang kehadirannya saja mampu mengubah udara menjadi lebih panas, membuatku sesak oleh perasaan yang tak dapat kujelaskan.
Kupandangi dirinya dari balik kaca jendela, sosok yang berjalan pelan menuju masjid, tempat suara adzan tadi bergema. Pakaian rapi yang menutupi tubuhnya, lengkap dengan peci di kepala, memancarkan kharisma yang tak terbantahkan.
Setiap langkah kakinya seakan memiliki irama, pelan namun pasti. Entah mengapa, seiring langkahnya, pandanganku menjadi semakin jernih, namun hatiku justru terasa semakin kabur akan kenyataan. Dan pada satu titik, aku kembali tersadar bahwa kami berasal dari dua dunia yang berbeda.
“Aku tidak bisa bersamanya,” bisikku lirih. Tanganku meraih dan menggenggam erat benda yang menggantung di leherku. Sebuah simbol yang tak hanya menjadi bagian dari diriku, tetapi juga menegaskan siapa aku sebenarnya.
Komentar
Posting Komentar