Langsung ke konten utama

Antara Aku dan Dia

   Malam yang sunyi menyelimuti langit, hanya keheningan yang menemani saat aku duduk terpaku pada sebuah buku yang terbuka di pangkuan. Namun, tak sepatah kata pun benar-benar kuresapi. Pikiranku melayang jauh, menjelajah ke ruang-ruang kemungkinan yang rasanya mustahil terwujud. Aku bingung.

“Ya Tuhan… mengapa bisa seperti ini?” gumamku lirih, kedua tanganku merengkuh rambut, mengacaknya pelan, seolah mencoba meredakan kegundahan yang melanda.

Di tengah gelisah yang menghimpit dada, suara adzan menggema menembus keheningan. Merdu dan penuh seruan, seakan memanggil setiap jiwa untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, dan menghadap pada-Nya. Dari jendela kamarku, kulihat orang-orang mulai beranjak, melangkah menuju rumah ibadah. Tanpa sengaja, mataku menangkap sosok yang begitu kukenal—dia, lelaki yang nyaris kutabrak pagi tadi. Dia, yang entah bagaimana selalu berhasil membuat jantungku berdebar lebih cepat. Dia, yang kehadirannya saja mampu mengubah udara menjadi lebih panas, membuatku sesak oleh perasaan yang tak dapat kujelaskan.

Kupandangi dirinya dari balik kaca jendela, sosok yang berjalan pelan menuju masjid, tempat suara adzan tadi bergema. Pakaian rapi yang menutupi tubuhnya, lengkap dengan peci di kepala, memancarkan kharisma yang tak terbantahkan.

Setiap langkah kakinya seakan memiliki irama, pelan namun pasti. Entah mengapa, seiring langkahnya, pandanganku menjadi semakin jernih, namun hatiku justru terasa semakin kabur akan kenyataan. Dan pada satu titik, aku kembali tersadar bahwa kami berasal dari dua dunia yang berbeda.

“Aku tidak bisa bersamanya,” bisikku lirih. Tanganku meraih dan menggenggam erat benda yang menggantung di leherku. Sebuah simbol yang tak hanya menjadi bagian dari diriku, tetapi juga menegaskan siapa aku sebenarnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Aku dan Dia

       Mataku terbelalak kaget saat melihat siapa yang kini berdiri di hadapanku. Daksaku spontan melangkah mundur perlahan. Aku gugup. Pandanganku menyapu sekeliling, kedua tanganku saling bertaut, dan jantungku berdetak tak karuan. Dengan sekuat tenaga, aku mencoba menetralkan degup jantung yang kacau, berharap orang di hadapanku tak menyadari tingkah konyolku ini.    “Bisa geser sedikit?” Suaranya menggema di telingaku—suara yang selama ini selalu ingin kudengar. Di setiap menit, setiap detik, aku berharap bisa mendengarnya lagi dan lagi.    “Halo?” ucapnya sedikit lebih keras sambil melambai di depan wajahku. Aku tersentak dari lamunanku.     Sial! Betapa malunya aku bertingkah seperti orang bodoh di depannya.    “Ah, iya. Silakan,” kataku gugup. Aku segera menggeser tubuh, memberi jalan untuknya. Tanpa merespon dia langsung mengambil langkah dan saat ia melangkah melewatiku, tubuhnya berhenti tepat di sisiku. Lalu... ...

Rasa Yang Abu Abu

     Ahhh... rasa itu lagi. Bayangan itu lagi," gumamku sendiri. ‎     Kuraih rambutku, mengacaknya frustasi. Entah kenapa bayangannya tak kunjung enyah dari kepalaku. Aku mulai merasa kehilangan kendali atas pikiranku sendiri. Gila, mungkin. Hal yang seharusnya sudah usang, justru kembali bergema begitu jelas dalam benakku. Apa maksudnya semua ini? ‎Jika ada yang bertanya, "Apa yang istimewa tentang dia?" ‎Aku terdiam. Tak ada jawaban pasti. Tapi satu hal yang kurasa benar: ‎"Tak ada yang istimewa... jika tanpa dia." ‎     Bukankah itu artinya segala sesuatu terasa lebih hidup saat bersamanya? Entahlah. Tapi memang begitu rasanya. Sebuah rasa yang tak bisa dijelaskan dengan kata. Aku tidak sedih. Tapi juga tidak bahagia. Semuanya terasa abu-abu, menggantung tanpa nama yang mampu mewakili. Namun yang pasti: aku tidak menyukai keadaan ini. Keadaan saat segalanya berubah—begitu pelan, begitu sunyi—hingga seolah tak pernah berubah sama sekali. T...

Gaung di Lorong Nurani

     Dunia seakan kehilangan nuraninya. Siang dan malam hanya diisi oleh raungan kepedihan, ratapan pilu bersahut dengan tangisan yang tak lagi sanggup membentuk kata. Konon katanya, dunia menjunjung keadilan—namun kenyataannya, keadilan hanya tinggal mitos yang memudar dalam debu kehancuran. Mata sengaja dibutakan, telinga dipilih untuk ditulikan. Nyawa manusia tak lebih berharga dari debu di jalanan, seolah tak ada arti selain angka di laporan. Mereka yang lantang berseru tentang hak asasi manusia—ke mana mereka pergi? Mereka yang negerinya kuat, mampu, dan dekat—mengapa tak tergerak? Mereka yang mengaku saudara, kini hanya diam membisu, menjadi penonton bisu dari panggung tragedi paling kejam.         Dentuman bom menggantikan nyanyian malam, menggulung rumah, harapan, dan tubuh-tubuh kecil yang bahkan belum sempat mengenal dunia. Tak ada tempat aman, tak ada waktu untuk doa yang khusyuk—hanya serpihan tubuh dan jiwa yang berserak, menyatu dengan ta...